Cahaya dari luar jendela menyusup ke dalam ruangan. Suasana itu membuat ingatan Biantara perlahan kembali, saling bertabrakan dalam samar yang mengganggu. Berbagai siluet tentang gadis itu dan Kania berhamburan di kepalanya. Dorongan itu membuat Biantara melepas ciumannya sejenak. Dalam gelap, Kania menatap Biantara sepersekian detik. Ia menarik napas dalam, dadanya naik-turun perlahan. Namun jeda itu tak bertahan lama. Biantara kembali menautkan bibirnya ke bibir Kania. Tangannya menyentuh tengkuk sang keponakan, menekannya dengan lembut. Bibir gadis itu membuat Biantara ingin terus merasakannya. Ia menyesap, mengulum lidah Kania, lalu menggigitnya dengan kasar. Kania merasakan sakit di lidahnya dalam beberapa saat. Satu tangan yang ada di pinggang pria itu kini mencengkeram refleks.

