Pagi-pagi sekali Nala sudah berada di kantin sekolahnya. Niat hati ingin sarapan dengan tenang, tapi siapa sangka dua orang yang tidak harapkan kehadirannya juga sudah ada di sana. “Ih, Kak. Film kemarin bagus banget, ya.” Suara Lovely terkesan dibuat-buat. Ia dengan manja bersandar di pundak Naren sambil memainkan ponselnya. Gadis itu menyodorkan benda pipih tersebut pada Naren. “Besok, aku mau nonton yang ini.” Naren tampak tersenyum. Ia mengusap kepala Lovely penuh sayang. “Oke. Apa pun yang kamu suka, Love.” Nada bicaranya terdengar hangat. Terlalu hangat. Nala mual mendengar percakapan dua orang yang duduk tidak jauh di seberang tempat duduknya. Soto panas di hadapannya jadi tidak menarik lagi. Bahkan, sendok yang ada ditangannya dihempas begitu saja hingga

