Dan di sinilah Nala berada—di rumah mewah milik Adrian. Ia duduk berhadapan dengan pria itu di sofa ruang tamu, dengan kedua tangannya saling bertaut karena gelisah. “Please, Mr. Adrian,” bujuk Nala dengan suara bergetar. “Aku benar-benar khawatir sama dia.” Ia menarik napas singkat. “Aku janji nggak akan bilang ke siapa pun kalau memang Kania ada sama Mr. Adrian.” Adrian hanya menghela napas panjang. Sejak tadi, Nala terus membujuknya agar mau mengatakan di mana keberadaan Kania, namun pria itu tetap bungkam. “Kenapa kamu berpikir saya yang menyembunyikan Kania, Nala?” tanyanya akhirnya, datar. Nala menunduk sesaat, jemarinya meremas-remas satu sama lain. Ia sendiri tak sepenuhnya tahu apa yang mendorongnya datang ke tempat ini. Namun keyakinan itu terlalu kuat untuk diabaikan. Beber

