Bab 109

2780 Kata

Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Biantara masih duduk di ruang kerja yang berada tepat di samping kamar tidurnya. Laptop dibiarkan menyala tanpa disentuh. Dokumen-dokumen berserakan di meja. Di antara jemarinya, sebuah bolpoin digenggam, sesekali diketukkan ke permukaan meja—gerakan kecil yang ia lakukan tanpa sadar. Kejadian siang tadi terus mengusik pikirannya. Bayangan tentang Kania memenuhi kepalanya yang berkecamuk. Tentang caranya melawan. Tentang tutur katanya yang kasar dan tidak terkontrol. Dan terutama—tatapan terakhir gadis itu. Tatapan yang berbeda. Tatapan yang entah kenapa terus terpatri di benaknya. Sejak insiden itu, tidak satu pun orang mendatangi kamar Kania. Mereka membiarkan gadis itu terkunci sendirian—termasuk dirinya. Belum lagi kondisi Melati yang sejak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN