Bab 108

3529 Kata

“Lancang banget kamu, ya!” seru Ranti dengan nada tak terima. Kania terdiam. Ia memilih berbalik menuju dapur, mulai mengolah bahan makanan yang tersedia. Meski hatinya berantakan, ia tetap berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Saat tangannya mulai mengiris bawang merah, Biantara yang masih berada di ruang tengah melirik ke arah dapur. Pandangannya tertahan pada Kania. Gadis itu menunduk, fokus pada pekerjaannya—namun entah kenapa, ia mengangkat kepala. Dalam satu detik singkat, mata mereka bertemu. Tidak ada kata. Tak ada gestur. Hanya tatapan yang segera diputus oleh Biantara. Pria itu mengalihkan pandangannya tepat ketika langkah Melati terdengar menuruni tangga. Ranti mendengkus sebal, lalu menoleh ke arah Melanie. “Ayo, Jeng. Kita ke belakang aja dulu,” ajakny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN