Bab 107

2903 Kata

Kania memejamkan mata rapat-rapat. Jika memang jalan hidupnya harus berakhir sampai di titik ini, ia pasrah. Posisinya terlampau sulit. Ia, dirinya tidak akan bisa lepas dari tempat ini—tidak sekarang, dan mungkin juga tidak pernah Ada penyesalan yang mengendap dalam dadanya—kenapa ia selalu menentang Biantara, kenapa tak sekali pun memilih diam. Namun, semua itu terjadi di luar kendalinya. Keadaanlah yang menyeretnya sampai ke posisi sekarang, memaksanya menjadi pihak yang kalah. “Aku nggak pernah berniat menantang om,” ucapnya pelan dalam hati, getir. “Aku cuma ingin bertahan.” “Takut?” Pertanyaan itu terasa seperti dorongan keras yang menjerumuskannya ke jurang yang kian dalam. Kania tahu, ini jebakan. Ia bisa melihat dari ekspresi lelaki itu. “Jawab,” desis Biantara, tipis namun m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN