Adrian terhuyung. Pukulan Biantara terlalu keras hingga membuat kepalanya sempat berdenyut. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar berhadapan langsung dengan kemarahan sahabatnya sendiri. “Om Bian, stop!” Kania berseru panik. Ia bergegas menghampiri Adrian dan berusaha menopangnya agar kembali berdiri. Namun Biantara sudah kehilangan kendali. Begitu Adrian berhasil berdiri tegak, tinjunya kembali melayang. Kali ini bogem mentah itu mendarat telak di wajah. Satu sudut bibir Adrian robek. Ia meringis tertahan, lalu mengusap darah yang merembes dari sela bibir dengan gerakan kasar. Tatapannya terangkat, menajam, mengarah lurus ke Biantara. “Apa-apaan, Bian?!” Bugh! Serangan balasan datang cepat. Adrian meninju tepat di hidung Biantara, membuat pria itu terhuyung dan sedikit kehilanga

