“Iya, Mas.” Biantara menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. Ia menatap istrinya penuh arti. Tangan Melati yang masih memegangi kerahnya disingkirkan lembut. Detik berikutnya, bibir keduanya menyatu. Biantara melumat bibir tipis Melati dan memagutnya dalam beberapa saat. Sampai akhirnya, pria tersebut melepasnya. Ia menggeleng. “Nggak buat sekarang, Sayang.” Ia mengusap wajah Melati dengan lembut. “Ingat kata Dokter. Nggak boleh berhubungan dulu, sebelum kandungan kamu dalam kondisi stabil.” Melati menekuk bibirnya. Ada sirat kecewa yang terhias di wajah cantik yang masih sedikit pucat itu. Ia menggenggam tangan suaminya. “Ya, udah, deh. Demi dia.” Melati menurunkan pandangannya ke perutnya yang masih datar. Biantara mengusapnya dengan hati-hati, seolah menjaga

