Begitu sampai di lantai bawah, langkah Biantara terhenti mendadak. Matanya langsung menangkap sosok istrinya yang sudah terduduk di lantai sambil memegangi perut. Punggung Melati bersandar ke dinding, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal. “Melati!” Nada suaranya meninggi dan tajam. Ia bergegas menghampiri, berlutut di hadapan sang istri, lalu langsung merengkuh tubuh Melati ke dalam pangkuannya. Tangannya menopang bahu dan punggung Melati dengan sigap, nyaris gemetar oleh panik yang berusaha ia kendalikan. “Kenapa kamu?” desaknya. “Siapa yang bikin kamu jatuh?” Melati meringis. Tangannya mencengkeram perutnya lebih erat, rahangnya mengatup menahan nyeri. “Mas … sakit …,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Raut wajah Biantara mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Be

