Biantara membuka pintu kamar Kania cepat. Ia meneliti tiap sudut ruang itu dengan mata jeli. Tidak ada Kania di sana. Atensinya lantas berhenti pada pintu kamar mandi yang terbuka. Pelan, langkah itu tertuju ke sana dengan netra tajam. Ia berhenti tepat di ambang pintu. Pecahan vas tampak berserakan. Kania terduduk di antara pecahan yang tajam. Punggungnya bersandar ke bathtub. Tangan Kania gemetar. Tatapannya terlihat hampa. Kosong. Tidak ada air mata yang keluar. Hanya saja, wajahnya menunjukkan sebuah keputusasaan. Pandangan Biantara turun. Lengan gadis itu sudah dipenuhi cairan berbau anyir. Tetesnya jatuh, mengotori lantai berwarna putih itu. “Teruskan saja kalau kamu memang mau mati, Bodoh!” Suaranya rendah, tegas. Tapi, penuh ejekan. Biantara berkacak pinggang. Ia menont

