“Bian?” Dokter kandungan itu berdiri. Matanya menyipit, memastikan apa yang dilihatnya tidak keliru. Sesaat kemudian senyum hangat mengembang di wajahnya. “Wina?” Biantara menyapa wanita yang ternyata memang temannya. Wanita bersnelli putih itu mengangguk sambil mengulurkan tangan. “Iya. Kamu apa kabar, Bian?” Biantara menjabat tangan Dokter Wina singkat. “Baik, Win.” Dokter Wina mengangguk kecil, lalu mempersilakan Biantara dan wanita di sampingnya duduk di kursi pasien. “Ini … istri kamu?” “Ah, iya.” Biantara merangkul Melati. “Ini Melati. Istri saya.” Dua wanita itu saling berjabat tangan dan bertukar senyum singkat, sebelum akhirnya duduk di kursi masing-masing. “Duh, maaf banget ya, Bian. Aku nggak sempat datang ke pernikahan kamu waktu itu.” “Nggak masalah, Wina,” jawab Bia

