Rahang Biantara mengeras. Tatapannya masih menyalak tajam ke arah sahabatnya. Ia benar-benar tidak mampu mengendalikan emosinya. “Mas ….” “Minggir, Melati.” Biantara menepis tangan Melati dari tubuhnya. Namun perempuan itu menggeleng, tetap memegangi suaminya, takut Biantara kembali kehilangan kendali. “Mas, tolong, jangan begini.” Melati memohon. “Mas Adrian sahabat kamu. Kalian bisa bicara baik-baik kalau memang ada masalah.” “Nggak akan bisa, Melati,” sahut Adrian. “Laki-laki keras kepala itu tidak akan bisa bicara dengan baik pada siapapun.” “Brngsek!” Emosi Biantara kembali meledak. Tanpa sadar, ia menyingkirkan tangan Melati dengan cukup kasar. Tangannya langsung mencengkeram kerah kemeja Adrian dan mengempaskan lelaki itu ke dinding dan menekannya kuat di tembok. “Jangan teru

