Telepon dari Yasmin membuat Biantara benar-benar gelisah. Pagi-pagi sekali, bahkan saat rumah masih terasa lengang, ia sudah rapi dengan kemeja, menenteng jas di lengan, lalu melangkah turun dengan gerak tergesa. “Mas …” “Melati.” Melati yang sedang meletakkan mangkuk sayur di atas meja makan segera menoleh. Tanpa ragu, ia menghampiri suaminya dan memeluknya erat, seolah tak ingin melepas. “Kok kayak keburu-buru banget?” “Iya,” jawab Biantara sambil mengecup puncak kepala Melati. “Ada urusan penting yang harus saya urus.” Melati menghela napas pelan, “Sarapan dulu, Mas. Sedikit aja.” “Saya buru-buru, Melati.” Melati berdecak pelan, lalu menggenggam tangan suaminya, menariknya lembut menuju kursi makan. “Aku suapin. Beberapa suap aja. Habis itu kamu boleh pergi.” Kali ini Biantara y

