“Ya ampun, Mas … sampai kesedak begitu. Ini, minum dulu.” Melati segera menyodorkan segelas air pada Biantara. Tangannya yang lain menepuk-nepuk punggung sang suami, berusaha meredakan rasa tidak nyaman yang terlihat jelas. Wajah Biantara memerah. Tenggorokannya terasa perih. Batuknya datang berulang kali, sampai akhirnya ia bangkit tergesa dan berlari ke arah wastafel. Ia memuntahkan isi perutnya di sana. Rasa mual menyerang tiba-tiba dengan hebat. Perutnya seperti diaduk tanpa ampun—padahal baru saja terisi. “Duh, Mas,” ujar Melati cemas sambil menyusul. “Kok jadi muntah-muntah begini? Perut kamu kambuh lagi, ya?” Biantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Setelah membasuh mulut, ia meraih tisu dan mengusapnya perlahan. Kedua tangannya lantas bertumpu pada pinggira

