Biantara memiringkan badannya sedikit. Ia mencubit dagu gadis itu, lalu mengarahkan wajahnya agar menatap dirinya. Namun, Kania menghindar. Meski wajahnya berhadapan dengan wajah Biantara, matanya enggan fokus ke sana. Tatapannya turun. Kania benar-benar meminimalkan kontak mata dengan pamannya. Ia tidak ingin terjerumus pada sesuatu yang lebih jauh—sesuatu yang selalu membuatnya merasa terjebak. “Siapa yang buat aturan pergi tanpa izin? Hm?” Dengan ringan, Biantara mengangkat kembali dagu gadis itu, berharap kali ini tatapan Kania mau tertuju padanya. Nyatanya, upaya tersebut sia-sia. Kania masih membisu, matanya tetap tertancap ke bawah, seolah menolak keberadaan pria di hadapannya. Geram, Biantara memberi tekanan pada cubitannya. Kania yang terus diam akhirnya menghempaskan wajahn

