Angin sore berembus pelan, bersamaan dengan motor Naren yang berhenti perlahan di depan rumah bergaya minimalis milik Adrian. Lelaki itu memarkirkan motornya di pekarangan. Matanya dengan mudah menangkap sosok Adrian yang tengah bersantai di taman depan, duduk di kursi rotan sambil membaca sesuatu di ponselnya. Begitu menyadari kedatangan tamu, Adrian segera berdiri. Ia mendekat dengan senyum lebar yang tulus. “Naren?” Ia tertawa kecil, tampak sumringah. “Tumben sekali kamu datang ke sini.” Kini Adrian sudah berdiri tepat di hadapan sang keponakan. Wajahnya ramah, hangat. Namun raut Naren justru sebaliknya—keras, datar, dan sulit ditebak. Tidak ada senyum balasan. Hanya kesal yang terlukis jelas di garis rahangnya. Adrian mengulurkan tangan. “Ada apa, Naren?” Naren membalas jabatan t

