Kania mendesah berat sembari mematikan panggilan video dari Biantara. Ia tahu betul, jika panggilan itu diangkat sejak awal, pria itu pasti akan meminta sesuatu—sesuatu yang sering kali melewati batas kewajaran. Belum sempat ia membuka aplikasi lain, panggilan video kembali masuk. Lagi-lagi dari Biantara. Tanpa ragu, Kania kembali menolaknya. Sejujurnya, sempat terlintas di benaknya untuk mematikan sambungan data agar panggilan itu tak bisa masuk lagi. Namun, ia mengurungkan niat. Ia terlalu paham bagaimana tabiat pria itu. Jika merasa diabaikan, kemarahannya bisa meledak tanpa kendali. Dan kemarahan itu tak selalu berhenti pada dirinya. Bisa saja berimbas pada orang terdekatnya—termasuk Adrian. Memilih mengalihkan perhatian, Kania meraih novel yang baru ia beli dari rak buku. Ia membu

