Cukup lama Kania larut dalam tangisan itu. Ia tidak mempedulikan seberapa bengkak matanya esok hari. Yang Kania ingin lakukan hanyalah melampiaskan seluruh emosinya. Tapi, sesaat kemudian, tiba-tiba saja pintu kamar itu diketuk dari luar. Kania dengan cepat mengusap air matanya dengan kasar menggunakan lengannya. Kania berdiri, memegang handle pintu dengan gemetar. Ia mengambil napas panjang terlebih dahulu sebelum membuka. Rupanya, yang mengetuk pintu itu ialah Melati--istri Biantara yang selalu ia panggil ‘Kakak’. Dengan senyum paksa, Kania menyambut kedatangan wanita tersebut. “Ada apa, Kak?” Kania bertanya dengan nada lembut. Tentunya jauh berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan kepada Biantara. Melati turut membalas senyuman Kania meski sedikit bertanya-tanya dalam hati--mengap

