Bab 116

2301 Kata

Biantara. Pria itu menampilkan senyum yang sulit diartikan. Wajahnya dingin. Namun, tatapannya terpaku pada gadis yang kini menahan rasa terkejut. Kania diam seribu bahasa. Kata-katanya tertahan. Ia seperti dikunci. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Kelopak matanya bergerak teratur. Langkah kecil pria itu makin membuat Kania mengecil. Ia terpojok. Betisnya menyentuh kloset. Gemuruh di dadanya makin keras. Tidak terkendali. Kedua tangan gadis itu masih menyilang di d.a.da. Degup jantungnya masih terus memburu, memukul keras dari dalam. Ia terjerembap. Tubuhnya menyentuh dinding bilik yang dingin. Tatapan Biantara masih tajam. Ia tidak melepas Kania sedetik pun. Gadis itu tengah berada dalam pengawasannya. “O-Om ....” Kata yang sama saat pertama kali Biantara masuk terdengar kembali.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN