"Mas Erwan …," panggil Tita ragu-ragu sambil berjalan pelan memasuki ruang kerja bosnya. "Hm?" Erwan merespon datar panggilan Tita. Tatapan pria itu hanya tetap terfokus pada layar monitor komputernya. Tita meletakkan bòkongnya dengan sangat hati-hati di kursi depan meja kerja Erwan. "Mau ngomong." "Ya ngomong, Ta," sahut Erwan cuek. "Mau nanya," ujar Tita lagi. "Ya tanya." Lagi-lagi jawaban asal yang Erwan berikan. Alhasil, Tita jengkel. Dientaknya kaki ke lantai dengan sebal. "Mas liat sini dulu, ih! Tita mau ngomong serius." "Astaga ini anak!" desis Erwan sama jengkelnya. Namun, ia kalah juga. Erwan akhirnya memutar duduknya dan menatap Tita, melotot tepatnya. "Mau ngomong apa emangnya?" "Kalo Tita pergi, Mas Erwan sedih enggak?" "Hah?” Sontak Erwan melongo. “Pertanyaan apaan

