“Mi, aduh!” Entah sudah berapa kali Tita menjerit panik dalam kurun waktu tiga menit terakhir. “Kenapa lagi, Kak?” sahut Dania gemas. Pekerjaannya jadi terganggu karena Tita menjerit terus sejak mulai menyalakan kompor. Sebelumnya pun, Tita sudah bertanya terus-menerus sambil menimbulkan kekacauan di dapur sejak subuh. “Mami ini gimana?!” teriak Tita putus asa ketika telur yang ia masukkan ke dalam wajan mulai menggelembung dan memercikkan minyak ke arahnya. “Ya diaduk, Kakak!” teriak Dania tidak sabar. Mengumpulkan segala keberanian yang dimilikinya, Tita coba mengaduk telur di dalam wajan agar pecah-pecah dan berukuran kecil. “Aw! Mami! Mami!” Belum ada satu menit, jeritan Tita kembali terdengar. Kali ini karena potongan cabai rawit iris yang baru dimasukkannya melompat-lompat li

