“Ambu …?” Jantung Tita serasa mau copot ketika membuka pintu apartemen dan menemukan Ayunda berdiri di hadapannya. Seketika wajahnya memucat dan perutnya mulas. Tanpa terlihat canggung, Ayunda langsung maju dan memeluk Tita. Didekapnya gadis itu seperti biasa. “Neng apa kabarnya?” "Kabarnya Tita begini aja, Mbu," jawab Tita canggung. Inilah pertemuan pertamanya dengan Ayunda sejak rencana pernikahan dibatalkan. Dalam benak Tita, sudah terbayang segala hujat yang akan ia terima, tetapi nyatanya sampai hari ini segala ketakutannya belum terbukti. Sudah tiga minggu berlalu sejak perpisahan di kebuh teh petang itu dan semua masih baik-baik saja. "Neng sibuk?" "Enggak, Mbu. Ada apa?" "Ambu boleh masuk?" tanya Ayunda penuh harap. "Boleh, Ambu. Silakan!" Cepat-cepat Tita mempersilakan Ayun

