Akhirnya, hari sakral itu pun tiba. Hari yang aku dan Mas Alan tunggu-tunggu sampai membuat waktu terasa bergerak lambat. SAH. Kata itu menggema serempak, membuatku merasa lega luar biasa. Beberapa saat setelahnya, aku langsung dibawa ke tempat akad untuk tanda tangan berkas dan lain-lain. Memang, saat akad berlangsung, aku tidak ikut. Aku menunggu di ruang khusus yang di dalamnya disediakan monitor. Saat aku menuju tempat akad, Mas Alan terus menatapku dengan senyum yang tak lepas sedikit pun dari wajahnya. Dia juga tampak berkali lipat lebih tampan. Wajahnya seolah bersinar, memancarkan aura lega dan bahagia. Mungkin juga, itu terjadi padaku. Pasalnya, sejak aku duduk di sebelah Mas Alan, dia terus saja memujiku cantik sampai aku malu karena kena ledek Pak Penghulu. Selain senyum ya