Bangun tidur kali ini rasanya jauh berbeda. Orang yang kurindukan beberapa waktu terakhir, kini sedang terlelap di sampingku. Tidurnya tampak tenang dan pulas. Dia Mas Alan, yang sejak kemarin sudah resmi menjadi suamiku. Suami, ya? Aku sungguh tak menyangka akan melangkah sejauh ini. Orang yang dulu selalu kotolak mentah-mentah, kini benar-benar sudah berhasil menangkapku. Sudah lima belas menit aku bangun, tetapi aku belum ada niat membangunkannya. Saat ini toh baru pukul setengah lima lebih beberapa menit. Masih ada waktu untuk aku menikmati wajah tampannya lebih lama. Setelah puas memandangi Mas Alan, aku bangun. Aku langsung memejamkan mata malu ketika menyadari hampir semua kancing piyamaku terlepas. Lebih tepatnya, hanya sisa satu yang paling bawah. Padahal jelas, semalam aku men