“Nanti berangkatnya jam berapa, Vina?” tanya Ibu ketika aku diajak Mas Alan berkunjung ke rumah orang tuanya, alias mertuaku. Kami jadi berangkat kurang lebih pukul sepuluh dari rumahku, setelah sebelumnya pamit pada Papa dan Mama untuk sekalian berangkat bulan madu. “Malam, Bu. Jam delapan pesawat berangkat. Jadi, jam enam kalau bisa harus udah di bandara.” “Berapa jam itu ke Bora Bora?” “Dua puluh lima jam lebih.” Mas Alan menyahut lebih dulu. “Itu udah termasuk singkat, Bu. Banyak penerbangan yang memakan waktu tiga puluh jam lebih. Aku udah cari yang paling cepat.” “Se-terpencil itu, pulaunya?” “Iya.” Mas Alan mengangguk. “Letaknya aja hampir di tengah-tengah Samudra Pasifik. Agak ke selatan, sih. Kalau Hawaii, itu versi utara.” “Berapa kali transit kalau boleh Ibu tahu?” “Tiga