Riana merasakan nikmat yang sempurna. Nikmat yang membuat bulu tubuhnya meremang. Nikmat yang membuat ia ingin terus melenguh senang. Nikmat, karena bercinta, dengan cinta. Nikmat karena diniatkan sebagai ibadah, bukan sekedar napsu belaka. Nikmat karena tak ada rasa takut, dan cemas. Nikmat karena ia percaya, Parman tidak akan menyakiti jiwa, dan raganya. Dari atas ranjang, mereka turun ke lantai, agar lebih bebas mengekspresikan segalanya. Parman melepaskan ciumannya, ia menggeram karena gemas dengan goyangan pinggul Riana yang terasa memanjakan miliknya. "Sayang, terus sayang! " Parman mendesis, gerakannya semakin cepat, dan kuat. Membuat tubuh Riana tersentak-sentak. "Bersama-sama, Sayang ...." Satu hentakan kuat, dan Riana merasakan rahimnya basah, Parman menebarkan b