Riana masih menundukan wajahnya. "Minggir toh, Dek, iki sing mau rabi Masmu, kok malah ditutupi!" Sontak wajah Riana terangkat, suara itu sangat dikenalnya. Suara Rina, adik Parman. Harapan kembali tumbuh di dalam hatinya. Tatapan Riana lurus ke depan, namun ia tidak melihat sosok Rina, tapi pria tinggi, dan putih itu menggeser tubuh ke samping, hati Riana berdebar, menantikan apa berikutnya yang akan terjadi. Mata Riana melebar, ditutup mulut dengan satu tangannya, air mata langsung berjatuhan dari matanya. Wajah pria yang memakai kemeja batik di hadapannya, adalah wajah yang selalu membayangi langkahnya. "Man ...." Riana tak mampu lagi menahan perasaannya. Ia menghambur ke arah Parman, Parman mendekapnya dengan erat. Tangis Riana tertumpah di d**a Parman. Cukup lama hal itu te