dia sudah pergi menjemput kebahagiaan yang lebih abadi. Dia pergi sebagai pahlawan, Gus. Dia pergi untuk memastikan suaminya tetap bernapas." Ghara terpaku. Kata-kata Zayn terasa seperti ribuan jarum yang menusuk otaknya sekaligus. Ia menatap langit-langit ruangan, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Pergi? Abi bicara apa? Dia baru semalam memelukku... dia baru tadi pagi menyiapkan nasi kuning..." "Gus, istighfar..." Zayn mulai terisak, tak mampu lagi menahan bendungan kesedihannya. "Putriku sudah pulang ke haribaan Allah. Dia menitipkan keselamatanku, Fathimah, dan keselamatanmu padanya. Dia menukar nyawanya dengan milikmu, Gus." Ghara meraung. Suara itu bukan lagi suara manusia, melainkan suara binatang yang terluka parah. Ia mencoba bangkit, mengabaikan jahitan di dadanya

