Suara tembakan tunggal itu menggema, memantul di dinding-dinding lembah. Aisyah merasakan hantaman yang luar biasa di dadanya, tepat di atas jantung. Kekuatan peluru itu membuatnya terpental ke belakang, menghantam tanah dengan keras. Dunia seolah melambat. Aisyah menatap ke arah langit. Awan kelabu mulai tersingkap, menampakkan warna biru fajar yang sangat indah. Ia mencoba bernapas, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah cairan hangat dan asin. Ia menyentuh dadanya, merasakan lubang yang mengucurkan darah segar dalam jumlah yang mengerikan. Aisyah tersenyum tipis. Ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah aroma melati yang tiba-tiba memenuhi sekelilingnya. Sangat harum. Seperti kamar pengantinnya. Seperti kulit Ghara. "Sudah... selesai, Ghara," bisiknya. Suaranya hilang dit

