BAB 71: Sembilu Turun Ranjang Tiga bulan berlalu, namun waktu seolah enggan membasuh luka di Pesantren Hidayatullah. Ghara sudah tidak lagi menggunakan selang oksigen, fisiknya telah pulih, namun tatapannya tetap kosong. Ia sering menghabiskan waktu di klinik pesantren, bekerja hingga larut malam hanya untuk menghindari keheningan kamar pengantin yang kini terasa seperti makam tak bernisan. Pagi itu, Kiai Zayn memanggil Ghara ke beranda belakang. Di sana, Fathimah sudah duduk menunduk, tangannya memilin ujung khimar abunya. Ada ketegangan yang tidak biasa di udara. "Gus Ghara," Zayn memulai, suaranya berat dan penuh pertimbangan. "Aku sudah tua. Dan musuh-musuh yang dihadapi Aisyah dulu... mereka tidak benar-benar hilang. Mereka tahu Aisyah punya kembaran. Mereka tahu titik lemah kita s

