Ghara tidak punya waktu untuk menimang anaknya. Ia segera memberikan bayi itu kepada seorang perawat senior untuk dilakukan resusitasi. Fokus utamanya kembali pada Fathimah yang kini pucat pasi, hampir kehilangan denyut nadi. Ia menjahit pembuluh darah yang pecah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tangannya bergerak seperti mesin, namun setiap jahitan diiringi dengan air mata yang membasahi masker bedahnya. Ia memberikan suntikan penambah kontraksi rahim dan cairan infus secara agresif. "Bangun, Fathimah! Jangan tinggalkan aku! Kau berjanji akan menyeduh kopi setiap pagi! Jangan kau ingkari janjimu!" raung Ghara sambil terus bekerja. Lima menit berlalu seperti lima abad. Tiba-tiba, sebuah suara memecah ketegangan di ruangan itu. Oeeek... Oeeek... Oeeeeek! Tangisan bayi yang kenc

