BAB 74: Rahasia di Balik Dinding Dingin Langkah kaki Ghara dan Fathimah menggema di lorong bawah tanah yang lembap, sebuah jalur rahasia yang menghubungkan kediaman Kiai dengan ruang bawah masjid. Udara di sini terasa berat, berbau tanah dan lumut tua. Di atas mereka, suara ledakan kecil dan teriakan sayup-sayup masih terdengar, menandakan bahwa pertempuran di pelataran pesantren tengah memuncak. Ghara memegang senter kecil dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tak sedetik pun melepas genggaman pada Fathimah. Ia bisa merasakan telapak tangan istrinya dingin dan basah oleh keringat dingin. "Kita hampir sampai, Fat. Bertahanlah," bisik Ghara. Suaranya bergema rendah di dinding terowongan. Mereka tiba di sebuah ruang sempit yang berdinding batu bata tua. Ruangan ini adalah bunker

