BAB 73. Bayang-Bayang dari Masa Silam Kabut pagi di perbukitan belakang pesantren biasanya membawa ketenangan, namun bagi Ghara, kabut kali ini terasa membawa firasat yang tidak enak. Sudah tiga hari ia merasakan ada sepasang mata yang mengintai dari balik rimbunnya pohon jati yang meranggas. Instingnya sebagai dokter yang pernah bertugas di medan konflik Wano tak bisa dibohongi; ada sesuatu yang sedang mengendap, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam. Di dalam kamar, Fathimah sedang merapikan tempat tidur. Gerakannya tenang, ritmis, dan penuh kelembutan. Sejak pagi di mana Ghara menyisir rambutnya, suasana di antara mereka telah mencair. Tidak ada lagi dinding es yang memisahkan, meski sisa-sisa duka masih seringkali menggelayut di sudut mata masing-masing. "Gus, kenapa melamun di j

