Bab 4

997 Kata
...Juleha tertawa, tawa yang terdengar mengejek. "Masa depan? Anda pikir Anda siapa? Pria yang hidup di pesantren ingin bicara masa depan dengan saya yang hidup di kota? Lucu. Tipe pria ideal saya adalah yang tahu cara bersenang-senang, yang tidak takut pada dosa. Anda sama sekali bukan tipe saya!" "Saya tahu saya bukan tipe kamu. Tapi, saya tulus. Dan saya melihat ada hal baik dalam dirimu, yang berusaha kamu sembunyikan," balas Zayn. "Saya ingin kamu menjadi istri saya, Juleha." "Gila," desis Juleha. "Permisi." Juleha berbalik, hendak keluar, tetapi Zayn mengambil dompet infak itu dan menahannya. "Saya tidak akan mundur. Karena niat saya baik, dan Umi Salamah merestui," kata Zayn, kini beralih pada sisi emosional. "Saya hanya meminta satu hal. Berikan saya kesempatan. Seminggu. Izinkan saya menjemputmu dari kampus dan mengantarmu pulang. Anggap saja ini sebagai upaya ta'aruf yang disetujui ibumu. Setelah seminggu, jika kamu tetap menolak, saya akan mundur." Juleha terkejut. Meminta izin secara langsung? Ini bukan cara pacar-pacarnya. Ini aneh, tetapi juga ada aura menghormati. Dan janji 'seminggu' itu membuatnya tertarik. Seminggu tidak lama. Ia bisa membuat Ustadz Zayn ini kapok dan menyerah. "Baiklah," jawab Juleha dingin. "Seminggu. Tapi jangan harap saya akan bicara. Dan jika Anda sekali lagi bicara dengan kucing atau karpet, saya akan membuat video Anda viral." "Setuju. Deal," kata Zayn, tersenyum sopan.) ... Tujuh hari berikutnya adalah periode paling aneh dalam hidup Juleha. Zayn benar-benar menepati janjinya. Ia menjemput Juleha dari rumahnya. Umi Salamah sangat senang, wajahnya berseri-seri melihat putrinya bersedia membuka pintu hatinya untuk Zayn. Pagi itu, Juleha keluar dari rumah dengan penampilan yang sopan, jilbab instan modern dan blus longgar. Umi Salamah melambaikan tangan dengan bangga. Namun, begitu mobil Zayn meninggalkan gerbang kompleks, senyum Juleha lenyap. "Berhenti!" Titah Juleha. Zayn menepi, juleha membuka pintu, lalu pindah duduk di kursi belakang. "Kenapa kamu duduk di belakang?" tanya Zayn, sedikit terkejut, melihat Juleha sudah memasang earphone di telinganya. "Biar ada jarak. Biar kamu fokus menyetir. Ayo jalan, Ustadz," jawab Juleha tanpa basa-basi. Zayn menghela napas, menyadari Juleha sedang membangun dinding. Ia tetap menjalankan mobilnya dengan tenang. Lima menit perjalanan, Juleha, yang duduk di belakangnya, mulai bertingkah. Zayn bisa mendengar Juleha menghela napas panjang, diikuti bunyi sruk-sruk kain yang digeser. Zayn melihat kaca tengah. Juleha membuka jilbabnya, melipatnya asal, dan melemparkannya ke kursi di sebelahnya. Ia lalu meraih hoodie longgar yang tadi menutupi bajunya. Ia membuka hoodie itu. Cittttttt... Zayn menginjak rem mendadak. Mobil terhenti di bahu jalan yang sepi. "Astaghfirullah!" ucap Zayn. Kedua tangannya mencengkeram kemudi. Meskipun Juleha ada di kursi belakang, Zayn tahu apa yang sedang terjadi. "Apa yang kamu lakukan, Juleha?" tanya Zayn, suaranya terdengar tercekat. Ia menutup matanya rapat-rapat. "Bernyanyi," sahut Juleha santai. "Jelas-jelas sedang ganti pakaian," gerutu Juleha. Ia kini sedang berusaha melepaskan blus panjangnya. Zayn memejamkan mata lebih erat. "Astaghfirullah, kenapa? Kenapa kamu harus ganti pakaian di mobil saya? Umi mengira kamu pergi dengan penampilan sopan!" Juleha siap mengganti pakaian. "Sudah, jangan banyak tanya. Cepat jalan!" "Astaghfirullah! Apa Umi tahu kamu melakukan ini, Juleha?" tanya Zayn, nadanya kini beralih menjadi teguran dan keprihatinan yang tulus. Juleha terdiam sejenak. Ia sadar telah melewati batas. "Tentu saja tidak. Jangan bilang kamu akan melaporkan pada Umi?" Zayn membuka matanya sedikit, melihat ke spion tengah, yang dengan cepat ia lipat ke atas. Ia menghembuskan napas berat. "Heh... saya bertanya," desak Juleha dari belakang, merasa kesal karena di abaikan Namun, Zayn tetap diam. Ia menurunkan kedua kaca jendela mobilnya, kemudian menyesuaikan spion samping agar sama sekali tidak menangkap bayangan kursi belakang. .... Zayn menghela napas, napasnya terasa berat dan tercekik. Ia mengendarai mobilnya, tetapi pikirannya kacau. Keheningan itu tebal, penuh dengan ketegangan. "Heh, Ustadz," panggil Juleha dari belakang. "Saya tahu kamu marah. Bicara saja. Jangan jadi sok suci yang pendendam." Zayn menginjak pedal gas sedikit lebih dalam dari biasanya. Tiba-tiba, ia membanting setir ke samping, menepi di bawah pohon rindang. Ia memutar badannya sedikit ke belakang, tidak sepenuhnya menghadap Juleha, tetapi cukup untuk melihat bayangan Juleha di kaca samping. Wajahnya tidak marah, tetapi matanya menunjukkan penderitaan dan frustrasi yang jelas. "Kamu benar, Juleha," kata Zayn, suaranya serak. "Saya tidak bisa bicara. Karena kalau saya bicara, saya akan bersuara keras. Saya akan berteriak." Juleha terdiam, terkejut melihat pertahanan Zayn akhirnya runtuh. "Apa yang kamu lakukan itu adalah penghinaan. Penghinaan terhadap ibumu, dan penghinaan terhadap dirimu sendiri," desis Zayn, suaranya rendah tetapi penuh penekanan. "Saya berusaha menepati janji. Saya berusaha menghormatimu sebagai perempuan yang harus saya jaga pandangannya. Tapi kamu... kamu sengaja membuatnya mustahil. Kamu ingin saya gagal, kan?" "Tepat," jawab Juleha dingin. "Mundur saja. Saya sudah tidak suci. Saya sudah punya pacar. Kenapa kamu bersikeras?" Zayn memukul kemudi mobil sekali, tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk menunjukkan ledakan emosinya yang tertahan. "Karena saya melihat bagaimana ibumu memandangmu, Juleha!" teriak Zayn, akhirnya. "Ibumu menatapmu dengan cinta dan ketakutan. Kamu pikir hidup dengan topeng ini tidak menyiksa ibumu? Kamu pikir Umi Salamah tidak tahu betapa lelahnya kamu hidup dalam kebohongan? Kamu tidak menyakiti saya, Juleha. Kamu menyakiti hati seorang ibu yang sudah renta!" Juleha tersentak. Air matanya tiba-tiba menggenang, bukan karena marah, tetapi karena kata-kata itu terasa sangat benar. Itu adalah rasa bersalah yang selama ini ia tekan. Zayn menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia menutup matanya, kemudian kembali pada ketenangan yang lebih otentik. "Maaf," ujar Zayn pelan. "Saya seharusnya tidak berteriak." Zayn mengambil botol air mineral dingin dari dashboard dan meletakkannya di kursi belakang. "Saya tidak peduli dengan masalalu kamu, Juleha," kata Zayn, kini kembali berbicara dengan nada yang lebih terkontrol, tetapi lebih tulus dari sebelumnya. "Semua orang punya masa lalu. Tugas saya adalah mengantarmu ke masa depan. Saya tidak akan mundur, Saya akan tetap di sini, menjadi tempat perlindunganmu, sampai kamu berani membuka diri." Ia menyalakan mobilnya lagi. "Sekarang minum air itu. Kita harus tiba di kampus. Besok, saya menanti jawabanmu. Jika kamu menolak, pastikan alasanmu bukan karena ingin menyakiti dirimu sendiri." Juleha tidak menjawab. Ia hanya menatap botol air itu. Kali ini, ia mengambilnya, dan menenggaknya dalam diam. Air itu terasa dingin di tenggorokannya, tetapi kata-kata Zayn terasa panas di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN