Bab 5

1215 Kata
Bab 5: Dinding yang mulai retak Lampu strobe berwarna ungu dan biru berputar liar, memantul di permukaan gelas kaca yang berisi cairan dingin. Musik EDM berdentum begitu keras hingga Juleha bisa merasakan getarannya di dalam tulang rusuknya. Biasanya, frekuensi ini adalah candu baginya. Musik ini adalah dinding yang menghalangi suara hatinya sendiri. Namun malam ini, dinding itu retak. "Leah! Kok bengong? Cheers!" Rio merangkul bahu Juleha, menyodorkan segelas minuman. Aroma parfum Rio yang tajam bercampur dengan bau asap rokok elektrik biasanya terasa maskulin bagi Juleha, tapi entah kenapa, malam ini aroma itu membuatnya sedikit mual. Juleha memaksakan senyum, menyesap minumannya sedikit. "Lagi nggak pengen mabuk, Rio. Besok ada kelas pagi." Rio tertawa meremehkan. "Sejak kapan Juleha peduli sama kelas pagi? Jangan bilang Ustadz yang antar jemput kamu itu sudah mulai mencuci otakmu?" Teman-teman di meja itu tertawa. Juleha merasa wajahnya memanas. "Enggaklah. Dia cuma tukang antar jemput gratisan. Umi yang maksa." "Gratisan atau 'investasi' surga?" celetuk Siska sambil tertawa kecil. "Hati-hati, Leah. Pria-pria alim itu biasanya punya cara halus buat bikin kita merasa berdosa. Jangan sampai kamu tiba-tiba minta kita semua pakai cadar di sini." Juleha ingin membalas dengan lelucon, tapi lidahnya kelu. Pikirannya justru melayang pada percakapan tentang band The 1975 di dalam mobil tadi siang. Ia ingat bagaimana mata Zayn tidak menatapnya dengan penuh nafsu seperti pria-pria di klub ini, tapi menatap ke depan dengan ketenangan yang menghujam. "Aku ke toilet bentar," pamit Juleha, melepaskan rangkulan Rio. Di dalam toilet yang remang, Juleha mencuci mukanya. Ia menatap pantulannya di cermin. Riasan matanya yang smokey tampak sedikit luntur. Ia teringat ucapan Zayn: “Kamu menyakiti hati seorang ibu yang sudah renta.” Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan w******p dari Umi Salamah. "Jule, Nak. Umi tadi habis minum obat tapi d**a Umi masih sedikit sesak. Kamu jangan pulang terlalu larut ya? Zayn bilang tadi kamu di kampus ada kegiatan sampai malam. Hati-hati di jalan, Sayang." Jantung Juleha seolah berhenti berdetak. Zayn berbohong untukku? Zayn yang ustadz itu, yang memegang teguh prinsip kejujuran, rela berbohong pada Uminya agar Juleha tidak dimarahi? Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari dentuman musik di luar. Pukul satu dini hari. Juleha meminta Rio mengantarnya pulang, tapi Rio sedang asyik dengan teman-temannya yang lain dan sudah setengah mabuk. Akhirnya, Juleha memesan taksi daring. Sepanjang perjalanan, ia menggigil. Bukan karena AC taksi, tapi karena ia merasa kotor. Ia turun beberapa blok sebelum rumahnya, lalu berjalan kaki—sebuah rutinitas agar mesin mobil taksi tidak terdengar oleh Uminya. Namun, di depan gerbang rumahnya, berdiri sebuah bayangan tinggi. Zayn Malik. Pria itu bersandar di mobilnya, mengenakan baju koko berwarna abu-abu tua dan sarung yang tersampir rapi di pundaknya. Ia tampak baru saja selesai melaksanakan shalat tahajud di masjid pesantren. Juleha mematung. Ia mengenakan jaket denim untuk menutupi pakaian minimnya, tapi ia tahu ia tidak bisa menipu mata Zayn. "Jam satu malam, Juleha," suara Zayn terdengar rendah, tenang, namun penuh luka. Tidak ada amarah meledak-ledak, dan itulah yang justru membuat Juleha merasa teriris. "Ngapain kamu di sini? Ngintip?" tantang Juleha, berusaha menutupi rasa takutnya. Zayn menegakkan tubuhnya. "Umi menelepon saya. Beliau sesak napas dan cemas karena kamu belum pulang. Saya datang untuk memastikan beliau baik-baik saja, dan menunggu kamu... agar beliau bisa tidur tenang setelah melihatmu pulang." Juleha terdiam. "Umi... gimana sekarang?" "Sudah tidur. Setelah saya beritahu bahwa saya baru saja melihatmu keluar dari perpustakaan kota dan sedang dalam perjalanan pulang," Zayn menatap Juleha tajam. "Lagi-lagi, saya harus menumpuk dosa kebohongan untuk menutupi dosamu." Juleha mendekat, matanya berkaca-kaca karena marah sekaligus malu. "Siapa yang suruh kamu bohong? Aku nggak minta dibantu! Bilang aja yang sejujurnya biar Umi tahu siapa aku sebenernya!" Zayn melangkah maju satu langkah. Aroma parfum kayu gaharu yang menenangkan menyerbak, menelan bau asap rokok yang menempel di jaket Juleha. "Kalau saya jujur, Umi mungkin akan serangan jantung malam ini juga. Apakah itu yang kamu mau? Membunuh ibumu dengan kejujuranmu yang kamu banggakan itu?" Juleha terbungkam. Ia ingin menampar Zayn, tapi tangannya gemetar. "Masuklah," kata Zayn lembut, suaranya berubah menjadi pelan. "Bersihkan dirimu. Shalatlah jika kamu masih ingat caranya. Jika tidak, minimal minta maaflah pada Allah di dalam hatimu karena sudah membuat ibumu sesak napas." Zayn berbalik menuju mobilnya. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak. "Besok saya jemput jam delapan pagi. Jangan terlambat." Juleha menatap kepergian mobil Zayn dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Pria itu baru saja menyelamatkan nyawa ibunya, sekaligus menghancurkan egonya. *** Pagi itu, matahari terasa membakar lebih awal dari biasanya. Di teras rumah Umi Salamah, Juleha berdiri dengan perasaan yang tidak menentu. Ia mengenakan tunik panjang berwarna pastel dan kerudung instan yang senada. Penampilannya sangat rapi, sangat santun, namun di balik kain itu, hatinya sedang berperang. Kejadian semalam, di mana Zayn memergokinya pulang jam satu pagi, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyakitkan. Ia melihat jam tangan. Pukul delapan kurang lima menit. Dan tepat pada waktunya, mobil hitam Zayn Malik memasuki halaman rumah. Zayn keluar dari mobil dengan tenang. Ia mengenakan kemeja koko putih bersih yang disetrika sangat rapi, dipadukan dengan celana kain hitam. Wajahnya terlihat segar, seolah ia tidak baru saja terjaga hingga dini hari demi memastikan calon mertuanya tidak terkena serangan jantung. "Assalamualaikum," sapa Zayn. Suaranya datar, tidak menunjukkan kemarahan, tapi juga tidak sehangat kemarin sebelum kejadian "pulang malam" itu. "Waalaikumsalam," jawab Juleha pendek. Ia tidak berani menatap mata Zayn. Ada rasa malu yang begitu besar yang menghimpit dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat ia tertangkap basah oleh ibunya sendiri. Umi Salamah keluar dari pintu rumah dengan langkah yang agak lemah, namun wajahnya berseri-seri. "Zayn, Nak. Terima kasih ya sudah menjemput Juleha lagi. Umi merasa jauh lebih tenang kalau Juleha pergi bersamamu." Zayn mencium tangan Umi Salamah dengan takzim. "Sama-sama, Umi. Itu sudah menjadi kewajiban saya." Juleha hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Kata-kata "kewajiban" itu terasa seperti sindiran halus di telinganya. Setelah berpamitan, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam kabin terasa sangat dingin, bukan karena AC, melainkan karena keheningan yang tebal di antara mereka. Baru saja mobil itu meluncur keluar dari kompleks, ponsel Juleha bergetar hebat di dalam tasnya. Ia mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar: Rio. Juleha melirik Zayn dari sudut matanya. Pria itu fokus menatap jalanan di depan, kedua tangannya memegang kemudi dengan stabil. Juleha memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu. Namun, Rio tidak menyerah. Ponsel itu bergetar untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, hingga akhirnya sebuah pesan masuk. "Aku di depan gerbang kampusmu. Kita perlu bicara soal semalam. Jangan coba-coba kabur lagi sama Ustadz kampung itu." Jantung Juleha berdegup kencang. Ia tahu Rio sedang dalam suasana hati yang buruk. Rio adalah tipikal pria yang posesif dan tidak suka diabaikan, apalagi setelah Juleha meninggalkannya di klub semalam tanpa pamit yang jelas. "Temanmu?" tanya Zayn tiba-tiba, memecah keheningan. "Bukan urusanmu," sahut Juleha ketus, meski suaranya sedikit bergetar. "Jika itu Rio, sebaiknya kamu selesaikan masalahmu dengannya secara baik-baik. Tapi jangan di depanku," kata Zayn dengan nada yang tetap tenang. "Saya tidak ingin melihat calon istri saya berdebat di pinggir jalan dengan pria yang bahkan tidak bisa menghargai waktu istirahatnya." "Calon istri? Kamu terlalu percaya diri, Zayn!" Juleha mendengus. "Kesepakatan kita cuma seminggu. Dan ini baru hari ketiga. Jangan harap aku akan benar-benar mau menikah denganmu." Zayn hanya tersenyum tipis, jenis senyuman yang selalu berhasil membuat Juleha merasa seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Kita lihat saja bagaimana skenario Allah bekerja, Juleha."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN