Bab 6

970 Kata
BAB 6: Percikan Api di Tengah Hening Saat mobil memasuki area kampus, Juleha melihat motor besar Rio terparkir tepat di samping gerbang utama. Rio berdiri di sana, masih memakai jaket kulit yang sama dengan semalam, matanya merah dan tampak sangat tidak senang. Begitu melihat mobil Zayn berhenti, Rio langsung melangkah maju dengan angkuh. Juleha segera turun sebelum Zayn sempat memarkirkan mobil dengan sempurna. Ia ingin mencegat Rio agar tidak terjadi keributan. "Leah! Apa-apaan sih kamu semalam?" bentak Rio begitu Juleha berada di depannya. Ia tidak memedulikan tatapan mahasiswa lain yang mulai memperhatikan mereka. "Kenapa tiba-tiba pulang sama taksi? Dan kenapa pagi ini kamu malah pakai baju begini lagi?" Rio menarik kasar lengan Juleha, membuat gadis itu meringis. "Ikut aku sekarang. Kita perlu bicara, jangan sama si sarungan itu." "Lepasin, Rio! Sakit!" Juleha berusaha melepaskan cekalan tangan Rio. Tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat namun lembut memegang pergelangan tangan Rio, memaksa pria itu untuk melepaskan Juleha. Zayn sudah berdiri di sana, berdiri tegak dengan tatapan mata yang tajam namun penuh kendali. "Maaf, Saudara Rio," kata Zayn dengan suara yang berat dan berwibawa. "Tolong lepaskan tanganmu. Kamu sedang menyakiti seorang wanita di tempat umum." Rio tertawa mengejek, menatap Zayn dari atas ke bawah. "Oh, jadi ini Ustadz jagoan itu? Heh, denger ya, Leah itu pacar gue. Lo nggak punya hak buat ikut campur urusan kami. Mending lo balik ke pesantren, urusin kambing atau apa lah yang biasa lo lakuin di sana." Zayn tidak terpancing. Ia melepaskan tangan Rio setelah memastikan Juleha sudah aman di belakang punggungnya. "Saya tidak sedang mengurusi urusan pacaranmu. Saya sedang melindungi wanita yang diamanahkan kepada saya oleh ibunya. Dan di sini, Juleha berada di bawah tanggung jawab saya." "Tanggung jawab? Halah! Leah, kamu beneran mau sama modelan kayak gini?" Rio menunjuk Zayn dengan wajah menghina. "Dia nggak akan pernah bisa kasih kamu kesenangan yang aku kasih. Dia cuma bakal kurung kamu di rumah pakai kerudung sampai kamu mati bosan!" Juleha berdiri gemetar di belakang Zayn. Di satu sisi, ia merasa terhina oleh ucapan Rio yang menganggapnya sebagai objek yang hanya mencari kesenangan. Di sisi lain, ia terkejut melihat bagaimana Zayn tetap tenang meskipun dihina sedemikian rupa. "Kesenangan yang kamu tawarkan itu semu, Rio," ujar Zayn tenang. "Kamu menawarkan kebebasan yang sebenarnya adalah penjara bagi moralnya. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak akan membawanya pulang jam satu pagi dan membiarkannya berjalan kaki sendirian." Rio kehilangan kesabaran. Ia melayangkan tinjunya ke arah wajah Zayn. Namun, dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, Zayn mengelak sedikit ke samping dan menangkap lengan Rio, lalu memutarnya ke belakang dengan satu gerakan kunci yang efisien. Rio mengerang kesakitan, tubuhnya terdorong ke arah jok motornya sendiri. "Saya tidak suka kekerasan," bisik Zayn tepat di telinga Rio. "Tapi saya belajar bela diri untuk melindungi hal-hal yang berharga. Jangan ulangi ini lagi. Sekarang, pergi." Zayn melepaskan Rio. Rio mendengus marah, menatap Juleha dengan pandangan penuh kebencian. "Oke, Leah. Kamu pilih dia? Kamu bakal nyesel. Jangan cari aku lagi kalau nanti kamu kangen dunia kita!" Rio menyalakan motornya dengan kasar dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap yang menyesakkan. Suasana menjadi hening. Beberapa mahasiswa yang tadi menonton mulai bubar. Juleha masih terpaku di tempatnya, menatap punggung Zayn yang lebar. Zayn berbalik. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Juleha tidak menjawab. Ia justru merasa sangat marah pada dirinya sendiri. "Kenapa kamu harus ikut campur? Sekarang semua orang di kampus bakal mikir aku ada apa-apa sama kamu!" "Bukannya memang ada apa-apa?" Zayn menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah saya sedang berusaha meminangmu?" "Zayn, please!" Juleha menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku. Hidupku ini berantakan. Rio itu satu-satunya orang yang bikin aku ngerasa... bebas." "Bebas atau pelarian?" tanya Zayn retoris. Ia melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Juleha, kebebasan yang sejati bukan saat kamu bisa melakukan apa saja tanpa batas. Kebebasan sejati adalah saat kamu punya kekuatan untuk mengatakan 'tidak' pada hal-hal yang sebenarnya merusakmu. Kamu cantik, kamu pintar. Jangan biarkan orang seperti Rio merendahkan harga dirimu." Juleha menurunkan tangannya. Matanya memerah. "Kenapa kamu baik banget sama aku? Padahal aku udah sering jahat sama kamu. Aku udah bohongin Umi, aku clubbing, aku... aku bukan wanita baik-baik, Zayn." Zayn menatap Juleha dengan pandangan yang sangat teduh, pandangan yang sama seperti saat ia menatap ayahnya di saat-saat terakhir. "Karena saya tidak melihat siapa kamu di masa lalu, Juleha. Saya melihat siapa kamu di masa depan. Dan saya percaya, di balik semua pemberontakan ini, ada hati yang sangat merindukan ketenangan." Zayn mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah sapu tangan bersih berwarna biru muda. Ia memberikannya kepada Juleha. "Hapus air matamu. Masuklah ke kelas. Saya akan menunggu di sini sampai jam kuliahmu selesai." "Nunggu di sini? Panas, Zayn," ujar Juleha, suaranya mengecil. "Panasnya matahari tidak seberapa dibanding rasa khawatir saya kalau Rio kembali lagi," jawab Zayn sambil tersenyum. "Sudah, masuklah." Juleha mengambil sapu tangan itu. Ada aroma kayu gaharu yang sama menempel di sana. Ia berjalan menuju gedung kampus dengan perasaan yang sangat asing. Ada sesuatu yang mulai mencair di dalam hatinya yang beku. Sesuatu yang ia sendiri belum berani menyebutnya sebagai cinta, tapi setidaknya, itu adalah rasa hormat yang mendalam. Dari kejauhan, Zayn memperhatikan Juleha hingga gadis itu menghilang di balik pintu gedung. Ia kemudian duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon besar, mengeluarkan sebuah kitab kecil dari sakunya, dan mulai membaca. Ia tidak peduli dengan bisikan orang-orang. Baginya, menjaga Juleha bukan lagi sekadar memenuhi keinginan ayahnya atau permintaan Umi Salamah. Ini adalah tentang menyelamatkan satu jiwa yang hampir tenggelam di lautan yang salah. Namun, di tengah ketenangan itu, Zayn merasakan firasat yang tidak enak. Ia tahu Rio tidak akan diam saja. Pria seperti itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, atau setidaknya menghancurkan apa yang tidak bisa ia miliki. Dan Zayn harus bersiap, karena ujian yang sebenarnya baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN