Bab 7

1281 Kata
BAB 7: Badai Fitnah dan Rapuhnya Benteng Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang bagi Juleha. Setelah kejadian konfrontasi antara Zayn dan Rio kemarin, ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Ia tidak lagi merasa terlalu sesak saat mengenakan tunik panjangnya. Sapu tangan biru milik Zayn masih ia simpan rapat di dalam tas, aromanya entah bagaimana memberikan rasa aman yang ganjil. Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat ia melangkah masuk ke koridor fakultas. Suasana terasa aneh. Biasanya, orang-orang akan menyapanya dengan teriakan riuh atau sekadar anggukan malas. Tapi kali ini, ia disambut oleh bisik-bisik yang tajam dan tatapan mata yang penuh penghinaan. Beberapa mahasiswa sengaja menjauh saat ia lewat, seolah-olah Juleha membawa wabah menular. "Eh, itu kan si Juleha?" bisik seorang mahasiswi dari jurusan sebelah. "Iya, ternyata bener ya berita yang tersebar di grup angkatan. Tampang doang sok santun pakai kerudung sekarang, padahal aslinya..." "Sst, orangnya lewat!" Juleha mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menuju kelas dan menemukan Siska serta Gisel sedang berkerumun menatap layar ponsel dengan wajah pucat. "Sis, ada apa?" tanya Juleha, suaranya gemetar. Siska mendongak, matanya menunjukkan rasa kasihan sekaligus canggung. Ia menyodorkan ponselnya ke arah Juleha. "Leah, mending kamu lihat ini sendiri. Rio... dia gila." Juleha mengambil ponsel itu. Layarnya menampilkan sebuah unggahan di media sosial yang sudah dibagikan ratusan kali. Itu adalah foto-foto Juleha saat berada di klub malam. Ada foto saat ia sedang tertawa sambil memegang gelas minuman, foto saat ia berangkulan mesra dengan Rio di bawah lampu neon, dan yang paling parah, foto yang diambil dari sudut rendah sehingga pakaian minimnya terlihat sangat provokatif. Keterangan foto itu tertulis dengan sangat kejam: “Tertipu penampilan? Hati-hati sama gadis pesanan ustadz yang pura-pura hijrah demi harta pesantren. Malam jadi ratu club, pagi jadi ukhti. Pikir-pikir lagi kalau mau jadikan dia panutan.” Darah Juleha terasa berhenti mengalir. Dunianya seketika gelap. Ia tahu foto-foto itu asli, tapi narasi yang dibangun Rio benar-benar sebuah fitnah yang bertujuan menghancurkan harga dirinya di depan semua orang, terutama di depan Zayn. "Rio... kenapa dia lakuin ini?" bisik Juleha lirih. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia dendam karena kemarin dipermalukan sama Zayn di depan umum, Leah," jawab Gisel sambil mengusap bahu Juleha. "Dia mau buktiin kalau kamu itu 'milik' dia dan dunia itu, bukan milik dunia Zayn." Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Seorang dosen masuk, tapi sebelum kuliah dimulai, beberapa mahasiswa mulai melontarkan celetukan sinis. "Bu, apa kampus kita nggak ada aturan soal moral mahasiswa? Masa ada yang suka main di tempat maksiat masih bisa duduk tenang di sini?" Juleha tidak tahan lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar kelas. Ia tidak peduli pada teriakan dosen yang memanggil namanya. Ia hanya ingin pergi, menghilang, atau tertelan bumi. Ia berlari menuju taman belakang kampus yang sepi, tempat di mana ia biasanya bersembunyi saat merasa tertekan. Ia jatuh terduduk di bawah pohon besar, terisak hebat. Semua ketakutannya menjadi kenyataan. Topengnya terbongkar dengan cara yang paling menjijikkan. Ia merasa kotor, merasa tidak pantas lagi menghirup udara yang sama dengan orang-orang baik seperti Zayn. "Juleha?" Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Juleha mendongak dan menemukan Zayn berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Pergi, Zayn! Pergi!" teriak Juleha sambil terisak. "Jangan dekat-dekat aku. Kamu sudah lihat kan fotonya? Aku memang wanita kotor. Aku memang ratu club. Aku nggak pantas buat kamu, nggak pantas buat pesantrenmu!" Zayn tidak pergi. Ia justru mendekat dan duduk di bangku taman, tetap menjaga jarak yang semestinya. "Saya sudah lihat." Juleha tertawa pahit di balik tangisnya. "Bagus kalau sudah lihat. Jadi kamu bisa berhenti mengejarku. Kamu bisa bilang ke Umi kalau aku ini sampah, dan kamu bisa cari ustadzah yang jauh lebih suci dari aku." "Apakah kamu pikir saya mencintaimu karena kamu suci?" tanya Zayn pelan, namun setiap katanya terasa sangat berbobot. Juleha tertegun. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Apa maksudmu?" "Juleha, sejak awal saya tahu siapa kamu. Saya tahu kamu sering keluar malam. Saya tahu pakaianmu seperti apa. Foto-foto itu tidak memberitahu saya hal baru tentang masa lalumu," Zayn menatap lurus ke depan, ke arah hamparan rumput hijau. "Tapi foto-foto itu memberitahu saya satu hal tentang masa depanmu." "Apa?" "Bahwa kamu butuh perlindungan yang lebih kuat dari sekadar tembok rumah. Kamu butuh seseorang yang tidak akan meninggalkanmu saat duniamu runtuh. Rio melakukan ini karena dia tahu dia sudah kalah. Dia hanya bisa menyerangmu lewat masa lalu, karena dia tidak punya tempat di masa depanmu." Juleha menatap Zayn dengan tidak percaya. "Tapi orang-orang menghinaku, Zayn. Mereka bilang aku pura-pura hijrah demi hartamu. Nama baikmu juga akan hancur kalau kamu tetap bersamaku!" Zayn menoleh ke arah Juleha, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Nama baik adalah urusan manusia, Juleha. Urusan saya adalah dengan Allah. Jika Allah menggerakkan hati saya untuk menjagamu, maka tidak ada satu pun postingan atau fitnah manusia yang bisa menghentikannya." Juleha terdiam. Kata-kata Zayn meresap ke dalam jiwanya, membalut luka-luka yang baru saja disayat oleh Rio. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponsel Juleha berdering. Kali ini dari telepon rumah. "Halo?" suara Juleha masih serak. "Non Juleha! Non cepat pulang ke rumah sakit!" suara Mbak Wati terdengar panik dan menangis. "Umi... Umi pingsan tadi setelah baca pesan di ponselnya. Sekarang di ruang IGD!" Dunia Juleha benar-benar runtuh sekarang. Ia menjatuhkan ponselnya ke tanah. "Zayn... Umi..." Zayn segera berdiri, wajahnya berubah tegang. Tanpa banyak bicara, ia mengambil ponsel Juleha yang terjatuh. "Ayo. Kita ke rumah sakit sekarang." Di dalam mobil, Juleha hanya bisa menangis dalam diam. Pikirannya dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Ia yakin seseorang—pasti Rio atau salah satu temannya—telah mengirimkan foto-foto dan fitnah itu langsung ke ponsel Umi Salamah. Penyakit jantung Umi tidak akan kuat menahan beban emosional seberat itu. Ini salahku. Ini semua salahku, batin Juleha menjerit. Setibanya di rumah sakit, mereka berlari menuju ruang IGD. Di sana, Mbak Wati sedang duduk lemas. Begitu melihat Juleha, Mbak Wati langsung memeluknya. "Umi gimana, Mbak?" "Masih di dalam, Non. Dokter bilang jantungnya lemah sekali." Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dengan wajah serius. "Keluarga Ibu Salamah?" Juleha dan Zayn serentak mendekat. "Ibu Salamah mengalami serangan jantung koroner yang dipicu oleh stres berat. Saat ini kondisinya kritis. Beliau terus memanggil nama putrinya dan... Nak Zayn," dokter itu menatap Zayn. Zayn mengangguk. "Boleh kami masuk, Dok?" "Hanya dua orang saja secara bergantian. Silakan." Juleha masuk terlebih dahulu. Ia melihat ibunya terbaring lemah dengan berbagai kabel menempel di tubuhnya. Wajah yang biasanya ceria itu kini pucat pasi. Oksigen menutupi hidung dan mulutnya. "Umi..." bisik Juleha, menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Maafin Juleha, Umi. Juleha anak nakal. Juleha bohong terus..." Mata Umi Salamah terbuka sedikit. Ia menatap Juleha dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kesedihan, tapi juga kasih sayang yang tak terbatas. Ia mencoba bicara di balik masker oksigennya, namun suaranya sangat lemah. Umi Salamah memberi isyarat agar Zayn masuk. Juleha mundur, membiarkan Zayn mendekat ke sisi lain ranjang. Umi Salamah mengambil tangan Juleha dan tangan Zayn, lalu menyatukannya di atas dadanya yang naik turun dengan tidak stabil. Air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu. "Zayn... Jaga... Juleha..." bisik Umi Salamah, suaranya terputus-putus. "Jangan... tinggalkan... dia..." Zayn menggenggam tangan Juleha dengan erat di bawah tangan Umi Salamah. "Saya janji, Umi. Demi Allah, saya akan menjaga Juleha dengan seluruh hidup saya. Umi tenang saja." Umi Salamah menatap Juleha, seolah meminta kepastian. Juleha yang merasa jantungnya seakan ikut berhenti, tidak punya pilihan lain. Di tengah rasa bersalah dan ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki, ia mengangguk mantap. "Iya, Umi. Juleha mau. Juleha akan sama Zayn," ucap Juleha sambil terisak. Mendengar itu, Umi Salamah tersenyum sangat tipis, sebelum matanya perlahan tertutup kembali dan mesin EKG di sampingnya mengeluarkan bunyi bip yang panjang dan konstan. "Dokter! Suster!" teriak Juleha histeris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN