Suara mesin monitor jantung di ruang ICU terdengar seperti detak waktu yang mencekam. Bau karbol yang tajam menusuk indra penciuman Juleha, membuatnya merasa semakin mual. Di balik kaca besar itu, ia melihat ibunya terbaring lemah dengan bantuan alat pernapasan. Umi Salamah belum melewati masa kritis, namun dokter mengatakan bahwa denyut jantungnya sudah mulai stabil dibandingkan semalam.
Juleha duduk di bangku tunggu yang keras, menekuk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia masih mengenakan pakaian yang sama sejak kemarin. Kerudung instannya sudah berantakan, dan matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
Sebuah gelas plastik berisi teh hangat menyentuh punggung tangannya. Juleha mendongak dan menemukan Zayn berdiri di sana. Pria itu tampak lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya, namun ia tetap terlihat rapi dan tenang.
"Minumlah sedikit. Kamu belum makan apa pun sejak kemarin sore," kata Zayn lembut.
Juleha mengambil gelas itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
Zayn duduk di sampingnya, memberikan jarak sekitar tiga puluh sentimeter. "Dokter baru saja memberi tahu saya bahwa kondisi Umi membaik. Tekanan darahnya mulai normal. Ini adalah mukjizat, Juleha."
Juleha menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar di tenggorokannya. "Ini semua karena permintaan itu, kan? Umi bertahan karena dia pikir aku benar-benar akan menikah denganmu. Dia bertahan karena harapan palsu yang aku berikan di depan maut."
Zayn menoleh, menatap Juleha dengan serius. "Kenapa kamu menyebutnya harapan palsu?"
"Karena aku melakukannya karena terpaksa, Zayn! Kamu tahu itu. Aku hanya ingin Umi bangun. Aku tidak siap melihatnya pergi dengan rasa kecewa karena foto-foto itu," suara Juleha meninggi, namun segera ia kecilkan karena sadar mereka berada di rumah sakit.
"Terlepas dari alasanmu, kamu sudah mengucapkannya di depan ibumu. Dan saya sudah mengucapkannya di depan Allah," sahut Zayn pelan namun tegas. "Bagi saya, itu bukan harapan palsu. Itu adalah akad yang tertunda."
Juleha tertawa pahit. "Kamu benar-benar ingin menikahi wanita yang foto-foto clubbing-nya sudah menyebar ke seluruh kampus? Kamu tidak malu? Orang-orang di pesantrenmu akan mencibirmu, Zayn. Mereka akan bilang ustadz mereka tidak punya selera atau lebih buruk lagi, mereka akan bilang kamu tertipu."
Zayn menarik napas panjang. Ia menatap dinding putih di depan mereka dengan pandangan menerawang. "Dahulu, ada seorang wanita yang masa lalunya sangat kelam, namun ia bertaubat dan menjadi salah satu wanita yang paling dihormati. Allah tidak melihat bagaimana kita memulai, Juleha. Allah melihat bagaimana kita mengakhiri. Jika saya harus kehilangan rasa hormat dari manusia demi menyelamatkan satu jiwa yang dicintai oleh Umi Salamah, maka biarlah itu terjadi."
Juleha terdiam. Sifat keras kepalanya perlahan mulai terkikis oleh ketulusan Zayn yang terasa tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ada pria yang begitu teguh pada prinsipnya saat dihantam badai fitnah yang juga menyeret namanya?
Tiba-tiba, seorang suster keluar dari ruang ICU. "Keluarga Ibu Salamah? Pasien sudah sadar dan alat bantu napasnya sudah dilepas. Beliau ingin bicara."
Juleha segera bangkit, hampir menjatuhkan gelas tehnya. Ia dan Zayn masuk ke dalam ruangan. Di sana, Umi Salamah tampak jauh lebih sadar. Meskipun wajahnya masih pucat, ada sinar harapan di matanya saat melihat Juleha dan Zayn datang bersamaan.
Umi Salamah memberi isyarat agar Juleha mendekat. Juleha menggenggam tangan ibunya, menciumnya berulang kali sambil terisak. "Umi, maafkan Juleha. Foto-foto itu... itu tidak benar, Umi. Juleha dijebak."
Umi Salamah tersenyum sangat tipis, suaranya terdengar parau dan lirih. "Umi tahu... Umi tahu putri Umi anak baik. Rio yang mengirimnya... dia ingin menghancurkanmu karena kamu mulai memilih jalan yang benar."
Juleha terkejut. "Umi tidak marah?"
"Umi sedih... tapi Umi lebih takut jika kamu kembali ke sana. Jule... Umi ingin melihat kalian sah sebelum Umi benar-benar beristirahat," kata Umi Salamah sambil melirik Zayn. "Zayn, Nak... bisakah kalian menikah secepatnya? Umi tidak tahu berapa lama lagi jantung tua ini sanggup bertahan."
Juleha membeku. Menikah secepatnya? Kalimat itu terasa seperti vonis sekaligus beban yang menghimpit dadanya. Ia menatap wajah ibunya yang begitu rapuh, lalu beralih menatap Zayn. Zayn tidak tampak terkejut. Sebaliknya, pria itu justru melangkah mendekat, berdiri tepat di samping tempat tidur Umi Salamah.
"Insya Allah, Umi," suara Zayn terdengar rendah namun sangat mantap. "Saya akan menyiapkan segalanya. Umi tidak perlu khawatir. Sekarang, yang paling penting adalah Umi harus sehat dulu agar bisa melihat Juleha mengenakan pakaian pengantinnya."
Umi Salamah tersenyum, genggamannya pada tangan Juleha sedikit mengerat. Ada binar kelegaan yang seolah memberikan nyawa baru pada tubuhnya yang renta. Semangat untuk sembuh itu benar-benar bekerja.
Selama seminggu berikutnya, keajaiban medis seolah berpihak pada mereka. Kondisi Umi Salamah membaik dengan sangat pesat.
Dokter yang menangani bahkan merasa takjub melihat kestabilan jantungnya. Juleha tidak pernah lepas dari sisi ibunya. Ia menjaga sikap, mengenakan hijabnya dengan rapi, dan berusaha menjadi sosok putri salihah yang diinginkan Umi. Ia menyimpan rapat-rapat dendamnya pada Rio dan rasa benci pada dirinya sendiri, demi senyum ibunya.
Hingga akhirnya, dokter mengizinkan Umi pulang dengan syarat tidak boleh stres dan harus istirahat total.
Dua hari setelah kepulangan Umi...
Siang itu udara sangat menyengat. Juleha duduk di ruang tengah, mengipasi dirinya dengan majalah. Umi Salamah sedang bersandar di sofa, tampak jauh lebih bugar.
"Duh, panas banget ya, Mi," keluh Juleha. "Cuaca begini kayaknya ngerujak enak banget, deh. Seger, asem, manis, pedas. Sepertinya enak ya, Mi?"
Umi Salamah menoleh, "Rujak??"