BAB 9: Aroma Nanas
"Ayo kita buat kalau begitu," jawab Umi Salamah dengan binar mata yang sudah lama tidak Juleha lihat. "Umi punya stok kacang tanah dan gula jawa baru di dapur. Coba kamu cek buah di kulkas, ada apa saja?"
Juleha beranjak ke dapur dengan semangat yang mulai timbul. Namun, saat membuka pintu kulkas, ia mendesah kecewa. Rak buah hampir kosong. "Yah, cuma ada timun sama jambu air sedikit, Mi. Mangga sama nanasnya nggak ada."
"Ya sudah, kalau begitu beli dulu ke pasar," sahut Umi Salamah tenang. Tangannya diam-diam merogoh saku daster, mengambil ponsel, dan dengan gerakan jempol yang sangat lincah, ia mengirim pesan singkat kepada Zayn Malik.
Zayn, Nak. Juleha mau beli buah untuk rujak di pasar. Bisa tolong antar? Sepertinya dia butuh bantuan memilih buah yang bagus.
Juleha yang masih berdiri di depan kulkas tidak menyadari konspirasi itu. Ia baru saja hendak protes bahwa ia malas menyetir sendiri di bawah terik matahari, namun tiba-tiba, sebuah suara bariton yang berat dan meneduhkan menggema dari arah pintu depan yang terbuka.
"Assalamualaikum."
Juleha tertegun. Ia mengenali suara itu. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, pria yang baru saja ia pikirkan kehadirannya untuk membantu, kini benar-benar berdiri di sana. Juleha melongok ke ruang depan dan menemukan Zayn Malik sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja katun tipis berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga siku, tampak rapi dan sangat segar meski cuaca sedang membakar di luar sana.
"Lho, kamu kok sudah di sini?" tanya Juleha curiga, matanya menyipit menatap Zayn lalu beralih ke Umi Salamah yang sedang berpura-pura sangat sibuk merapikan taplak meja.
"Firasat," jawab Zayn singkat dengan senyum tipis yang misterius. "Umi, saya izin mengantar Juleha ke pasar sebentar untuk mencari buah."
Umi Salamah mengangguk semangat. "Nah, itu dia! Ayo Jule, mumpung ada Zayn yang antar. Umi agak khawatir kalau kamu pergi sendiri siang-siang begini, takut kamu pusing kena panas."
Juleha tidak punya alasan untuk menolak. Sepanjang perjalanan ke pasar, hubungan mereka terasa lebih mengalir. Tidak ada perdebatan sengit seperti biasanya. Di pasar tradisional yang ramai dan lembap, Juleha terkejut melihat sisi lain dari Zayn. Pria itu ternyata sangat lihai menembus kerumunan dan memilih buah.
"Pilih nanas itu jangan cuma lihat warna kuningnya saja, Juleha," kata Zayn sambil mengetuk-ngetuk kulit buah nanas yang berduri. "Coba cium pangkalnya. Kalau aromanya sudah harum tajam, berarti dia matang pohon dan banyak airnya."
Juleha tertawa kecil, memperhatikan bagaimana teliti-nya tangan Zayn memutar-mutar buah. "Dih, ustadz kok tahu urusan pasar? Saya pikir kamu cuma tahu urusan kitab saja."
"Dulu saya sering mengantar almarhumah ibu ke pasar sebelum saya berangkat ke pesantren. Beliau sangat teliti soal bahan makanan, jadi saya terbiasa belajar memilih yang terbaik," kenang Zayn dengan nada hangat.
Mereka pulang dengan kantong belanjaan penuh mangga harum manis, kedondong, dan nanas. Sesampainya di rumah, Umi Salamah sudah menunggu di gazebo belakang. Aroma bumbu rujak kacang yang diulek dengan gula jawa dan terasi bakar sudah memenuhi udara, membuat selera makan seketika memuncak. Mbak Wati sudah menyiapkan piring-piring kecil dan air es.
Suasana semakin mencair saat mereka mulai mengupas buah bersama.
"Zayn, kamu inget gak, dulu kamu waktu kecil itu ingusan, iyuuuuuh" kata Jule.
"Heh, kok bahas masa lalu?" Sahut Zayn.
"Enggak, saya gak nyangka aja kamu..." Juleha enggan melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang ganteng kan?"potong Zayn.
"Dih, ustadz narsis!"
"Kamu, susah bener mengakui kalo nak Zayn ini sekarang ganteng dan gagah." Kata umi Salamah pada Jule. "Eh.. umi jadi ingat, Zayn Pernah dia jatuh ke selokan gara-gara mau menyelamatkan kucing liar yang terjepit, tapi bukannya nangis kesakitan, dia malah minta maaf sama kucingnya karena tangannya kasar saat menariknya keluar."
Juleha tertawa terbahak-bahak, membayangkan sosok pria tinggi tegap di depannya ini berbicara pada kucing di dalam selokan. "Serius? Hahaha! Ustadz kita ternyata punya masa lalu yang sangat ajaib."
Zayn hanya bisa tersenyum malu, wajahnya sedikit bersemu merah saat aib masa kecilnya dibongkar habis-habisan. Ia kemudian menusukkan sepotong nanas kuning ke garpu kecil dan menyodorkannya pada Juleha yang masih asyik tertawa.
"Sudah, jangan tertawa terus. Ini, coba nanas pilihan saya. Saya jamin manis, tidak ada asam-asamnya sama sekali. Ini nanas madu," kata Zayn meyakinkan.
Juleha menerima suapan itu tanpa curiga. Namun, begitu nanas itu masuk ke mulutnya dan diperas oleh giginya, wajahnya langsung berkerut hebat. Rasa asam yang luar biasa tajam langsung meledak di lidahnya, membuatnya refleks menutup mata rapat-rapat.
"Ugh! Asem banget, Zayn! Kamu bohong!" seru Juleha sambil mengipasi mulutnya yang mendadak perih, sementara Zayn tertawa lepas melihat ekspresi lucu Juleha.
"Dih, ustadz kok bohong! Katanya manis!" protes Juleha lagi, namun ia ikut tertawa geli melihat wajah usil Zayn yang biasanya kaku itu.
Umi Salamah memperhatikan interaksi itu dari kursinya dengan mata berkaca-kaca. Hati tuanya merasa sangat tenang melihat Juleha bisa tertawa lepas bersama pria sebaik Zayn. "Umi bahagia sekali melihat kalian begini. Umi ambil minum dulu ya ke dapur, rasanya haus melihat kalian makan pedas," pamit Umi sambil bangkit perlahan.
Saat Umi sudah masuk ke dalam rumah, keheningan mendadak menyergap gazebo. Juleha menatap Zayn, hatinya mendadak terasa berat oleh rahasia yang ia simpan. Ia merasa tidak adil jika terus membiarkan Zayn mendekatinya dengan harapan yang tulus tanpa tahu kebenaran yang pahit tentang dirinya.
"Zayn," panggil Juleha. Suaranya rendah dan serius.
Zayn berhenti mengunyah, ia merasakan perubahan atmosfer di antara mereka. "Ya?"
"Kamu sungguh ingin saya menjadi istrimu? Setelah semua yang kamu tahu tentang saya?" tanya Juleha, menatap lurus ke mata Zayn.
Zayn tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tenang dan meyakinkan. "Yah.. saya yakin. Hati saya sudah mantap."
Juleha menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menghancurkan momen indah ini sebelum semuanya terlambat. "Tapi saya.. saya sudah tidak perawan, Zayn."
PRANG!
Suara gelas pecah terdengar sangat nyaring dari arah pintu belakang. Juleha dan Zayn serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Umi Salamah berdiri mematung dengan wajah yang sangat pucat. Gelas berisi sirup dingin yang ia bawa hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
Ternyata Umi Salamah tadi mengintip dan mendengar pengakuan jujur Juleha.
"Umi!" teriak Juleha panik.
Umi Salamah tampak sesak napas, tangannya memegangi d**a kiri. Ia limbung dan karena posisi pintu yang licin akibat sirup yang tumpah, tubuh Umi terjatuh ke belakang dan langsung masuk ke dalam kolam ikan di samping teras.
BYUR!
"UMI!" Juleha histeris.