Setelah suara motor Zayn benar-benar lenyap di balik rimbunnya pohon jati, Juleha tidak langsung bergerak. Ia masih terduduk di lantai, bersandar pada pintu lemari yang dingin. Suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding kayu itu pun ikut menjaga rahasianya. Juleha bangkit, langkahnya gontai menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, mencoba mengusir bayangan wajah Zayn yang tadi tersenyum teduh. Saat ia mendongak menatap cermin, ia perlahan menurunkan kerah hijabnya. Di sana, di pangkal lehernya, bercak itu tidak lagi sekadar kemerahan. Warnanya mulai berubah menjadi gelap, dengan tepian yang tidak beraturan. Juleha menyentuhnya dengan ujung jari. Tidak sakit, tapi sensasi kebas yang menjalar hingga ke rahangnya membuat hatin

