Juleha berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya dengan langkah yang terasa seberat timah. Tubuhnya masih terasa melayang, sisa-sisa trauma pingsan di halte dan hantaman vonis dokter tadi membuat dunianya jungkir balik. Ia pulang sendiri, dengan taksi yang ia hentikan jauh sebelum gerbang depan Pesantren Hidayatullah, agar ia punya waktu satu kilometer berjalan kaki untuk menata wajahnya sebelum bertemu Zayn. Di tangannya, ia mencengkeram erat sebuah amplop cokelat besar. Di dalamnya terdapat hasil laboratorium dan secarik kertas rujukan dengan istilah medis yang terasa seperti belati yang menusuk jantungnya setiap kali ia membacanya. "Ini nggak mungkin..." gumamnya lirih, nyaris tertelan suara gesekan daun jati yang tertiup angin sore. Juleha masuk ke dalam rumah. Sunyi. Zayn pa

