BAB 26: Nisan yang Basah dan Vonis Tak Terucap Siang itu, matahari di atas Pesantren Hidayatullah seolah kehilangan taringnya. Langit mendadak berubah menjadi abu-abu yang muram, menggantung rendah seakan siap menumpahkan seluruh beban air matanya. Di dalam rumah yang berjarak satu kilometer dari pusat keramaian santri, Juleha terbaring di atas sofa. Di dadanya, sebuah kitab saku doa yang sering ia pelajari bersama Zayn masih terbuka di halaman Salamun 'ala Nuhin fil 'alamin. Hening yang mencekik membawa Juleha masuk ke dalam mimpi yang sangat dalam. Dalam tidurnya, Juleha berada di sebuah lorong panjang yang gelap. Di ujung lorong itu, sebuah pintu kayu tua terbuka sedikit, membiarkan cahaya putih menyilaukan merembes keluar. Juleha berlari. Ia merasa sangat lelah, sangat kotor, dan sa

