Najwa hampir menangis. Ia mengira Juleha datang untuk melabraknya, mengira Juleha akan memaki atau mengusirnya dari pesantren karena dianggap "ular" yang mencoba mendekati Gus Zayn. "Maafkan saya, Mbak! Demi Allah, saya tahu batasan saya. Saya hanya santri yang menghormati guru. Jangan lapor ke Abah, Mbak... saya mohon," isak Najwa pelan, kepalanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap istri gurunya itu. Juleha terdiam melihat ketakutan Najwa. Hatinya perih. Ia bukan ingin memarahi gadis ini, ia justru ingin memberikan hartanya yang paling berharga kepadanya. Juleha mengulurkan tangan, meraih dagu Najwa dan mengangkatnya pelan. "Kenapa kamu takut? Kalau kamu memang cinta padanya, itu bukan dosa, Najwa. Karena itu... aku datang ke sini bukan untuk memarahimu." Najwa tertegun, air mat

