Pagi itu, Pesantren Hidayatullah diselimuti kabut tipis. Suara santri yang mendaras Al-Waqi'ah bersahutan dengan bunyi sapu lidi yang menggores tanah halaman. Di dalam kamar, Juleha berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri dengan perasaan yang campur aduk. Di tangannya, selembar kain niqab berwarna hitam pekat terasa sangat ringan, namun bebannya bagi Juleha terasa begitu berat. Ia perlahan mengikatkan tali cadar itu di belakang kepalanya. Saat kain itu jatuh menutupi hidung dan mulutnya, Juleha menghembuskan napas panjang. Uap napasnya tertahan di balik kain. Ia merasa aman. Kini, tak akan ada lagi yang bertanya kenapa bibirnya memucat. Tak ada lagi yang akan melihat pipinya yang mulai tirus dan bintik merah yang mulai merayap di dekat telinganya. "Jule? Kamu sudah si

