Bab 32

1141 Kata

BAB 32: Tabir yang Tak Pernah Lepas Di bawah cahaya lampu kamar mandi yang putih pucat, ia melihat musuh barunya. Bukan lagi hanya di leher atau punggung. Di dekat sudut bibirnya, sebuah bintik keunguan dengan pinggiran yang kasar dan kering mulai muncul. Di tulang pipinya, kulitnya tampak melepuh tipis, seolah-olah ada bara api yang baru saja diletakkan di sana. "Ya Allah... jangan di wajah," isaknya lirih. Air matanya jatuh, bercampur dengan air kran yang dingin. Jika di punggung, ia bisa menyembunyikannya dengan pakaian longgar. Jika di leher, ia bisa menutupinya dengan khimar. Tapi wajah adalah satu-satunya bagian yang Zayn tatap setiap kali mereka bicara. Jika wajahnya mulai hancur, sandiwara ini akan berakhir. Ia segera mengeringkan wajahnya dengan handuk lembut—yang seketika mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN