Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Bandung dengan kereta api yang sudah Abima dan Galih tumpangi akhirnya sampai di tempat pemberhentian tujuan mereka, setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga sampai empat jam akhirnya mereka benar-benar bisa keluar dari gerbong kereta tersebut dan bisa menghirup udara segar yang ada di luar stasiun.
Abima sempat mengecek jam di pergelangan tangannya sebentar dan ternyata sekarang sudah pukul setengah sembilan malam, mereka menghabiskan waktu tiga setengah jam di dalam kereta itu dan untungnya sekarang mereka sudah sampai dengan selamat di kota kelahiran Abima.
Hari sudah terlalu malam bagi mereka berdua untuk mencari angkutan umum, akan cukup sulit mendapatkan angkutan umum di jam ini. Abima pun beralih pada Galih yang sedang merenggangkan otot-otot pada tubuhnya, sahabatnya itu terlalu lama tertidur dengan posisi duduk sehingga wajar saja jika badannya terasa amat pegal sekarang.
“Galih, kita naik angkutan online aja deh, ya? Gue pesan gocar sekarang,” beri tahu Abima pada laki-laki itu.
Galih menoleh cepat, bingung karena pembicaraan awal mereka tidak seperti ini. “Enggak angkutan umum aja, Bim?”
“Udah kemaleman, Gal. Lebih mending naik gocar aja deh ini udah gue pesan, lagian nggak pakai lama bisa langsung jalan.”
Galih akhirnya hanya mengangguk saja, dia tidak banyak tahu tentang kota ini karena ini pertama kalinya bagi Galih untuk datang ke Bandung. Biasanya dia hanya mendengarnya saja dari cerita Abima karena sahabatnya itu memang sering sekali menceritakan tentang kota kelahirannya tersebut.
Lagipula memang akan lebih baik jika mereka bisa segera sampai ke rumah Abima karena jujur saja Galih masih sangat mengantuk sekarang dan dia butuh membersihkan diri sebelum akhirnya kembali tertidur di rumah Abima nanti. Tapi, kalo dipikir-pikir sebenarnya Galih juga sangat lapar sekarang karena dia hanya memakan kue-kue kering yang dibawakan oleh Ibu Asrama Abima.
Mereka belum memakan makanan berat jadi wajar saja jika keduanya sekarang sudah sangat lapar sekarang. Tapi, rasa kantuknya juga tidak bisa Galih biarkan saja, dia jadi bingung sendiri ketika sampai nanti apakah mereka harus makan lebih dahulu atau langsung tertidur saja akibat rasa lelah yang sudah sangat sulit untuk ditahan ini.
“Gal, lo mau cari makan dulu nggak atau nanti mau langsung istirahat?” tanya Abima, mereka berdua kini tengah menunggu gocar mereka datang karena sekarang masih dalam perjalanan.
Galih yang diberikan pertayaan seperti itu hanya bisa memanyunkan bibirnya, dia sedang berpikir dan tidak bisa memilih dari dua pilihan itu tapi sekarang Abima malah mengajukan pertanyaan yang sama dengan apa yang sedang dirinya pikirkan.
“Lo sendiri mau makan dulu atau langsung istirahat?” Karena tidak bisa menjawab akhirnya Galih mengajukan pertanyaan yang sama kepada laki-laki itu.
Abima tertawa, dia tahu sekali bahwa Galih sekarang sedang bingung, terlihat sekali dari matanya yang sudah sayu tanda bahwa dia sangat lelah dan mengantuk sekarang, tapi sejak tadi juga Abima mendengar bunyi suara perut temannya itu yang tidak bisa ditahan, entah sudah berapa kali berbunyi juga Abima tidak tahu tapi yang pasti Galih sepertinya memang selapar itu.
“Makan dulu deh, nanti kita beli di warung makan dekat rumah gue yang buka 24 jam,” jawab Abima dan Galih hanya mengangguki saja apa pilihan terbaik yang bisa mereka lakukan ketika sampai nanti. Lagipula tertidur dalam keadaan perut kosong memang tidak baik, mereka memang harus makan dulu walaupun hanya sedikit saja, setidaknya harus mengisi perut agar cacing-cacing yang ada di dalam sana tidak memberontak karena kelaparan.
Setelah menunggu kurang lebih enam menit akhirnya gocar pesanan mereka datang, Abima dan Galih segera menaikinya untuk bisa segera sampai ke rumah. Jarak dari stasiun tempat pemberhentian menuju rumah Abima yang ada di Bandung tidak begitu jauh sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di sana, memang pilihan yang tepat untuk memesan taksi online, karena selama perjalanan tadi keduanya sudah tidak melihat adanya angkutan umum yang berjalan karena hari memang sudah malam sekali, semua orang pasti sudah pulang ke rumah masing-masing.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah Abima, Abima segera membayar dan mereka berdua mampir sejenak untuk membeli beberapa makanan dan lauk pauk untuk keduanya santap di rumah sebelum tidur nanti. Abima dan Galih kembali meneruskan jalan mereka yang hanya berjarak empat rumah dari warung makan tersebut menuju rumah Abima.
Abima tersenyum kecil ketika dia sudah berdiri tepat di depan rumahnya, melihat bangunan itu membuat Abima jadi kembali teringat masa-masa yang pernah dia lewati selama bertahun-tahun di tempat ini. Ada banyak sekali kenangan yang tertinggal dan tidak bisa Abima hapuskan begitu saja dengan mudahnya, sebab semua kenangan itu menjadi hal yang bisa dia ingat kembali tentang kedua orangtuanya yang sudah tiada.
Sebisa mungkin Abima masih ingin mengingatnya walaupun hanya samar-samar saja.
Lampu dalam rumah itu sudah menyala semua karena pada lantai satu memang ada yang menempatinya, sedangkan Abima bisa naik ke lantai dua tanpa harus masuk melewati lantai satu. Ada tangga di samping rumah itu yang bisa menghubungkan Abima untuk naik ke atas sana tanpa perlu membangunkan mereka yang ada di bawah sana.
Abima sudah memberikan kabar pada keluarga yang menyewa rumah bawahnya bahwa dia akan pulang ke Bandung, tapi Abima bilang bahwa mereka tidak perlu menunggunya, sebab masih ada esok hari bagi mereka untuk bertemu. Lebih baik di malam hari mereka langsung beristirahat saja.
“Selamat datang di rumah kecil gue,” ujar Abima kepada Galih sembari tersenyum ketika mereka berdua sudah berhasil masuk ke dalam rumah tersebut. Abima menutup dan mengunci pintu depan sebelum ikut bergabung bersama Galih yang sudah mendudukkan dirinya di bawah lantai, kemudian mengambil posisi terlentang karena sudah terlalu lelah.
“Rumah lo bagus, Bim.” Dengan posisi terlentangnya itu Galih memperhatikan setiap detail yang ada di rumah atas ini. Abima juga sudah berkata bahwa bagian bawah rumahnya memang sudah dihuni oleh orang lain yang memang sengaja Abima sewakan untuk biaya bersekolahnya setiap bulan, sebagai tambahan walaupun keluarganya masih sering mengirimkan uang dari hasil tabungan kedua orangtuanya.
“Mau mandi dulu nggak, Gal? Abis itu makan baru deh lo bisa tidur, ada dua kamar kok di sini.”
“Langsung makan aja deh, gue udah nggak ada tenaga buat mandi. Besok aja bebersihnya,” tolak Galih langsung, katakanlah dia jorok tapi saat ini dia sudah benar-benar sangat lelah dan tidak sanggup lagi jika harus mandi sekarang, apalagi udara Bandung itu sangat dingin terutama airnya. Lebih baik Galih membersihkan dirinya di esok hari saja.
“Oke,” Abima tertawa, mengetahui sudah selelah apa sahabatnya itu.
Setelah membersihkan tangan, kaki dan mencuci muka akhirnya kedua laki-laki itu pun makan sebentar untuk mengisi perut mereka yang kosong sejak tadi sore dan sudah berbunyi sejak tadi. Setelah selesai Galih langsung pamit ke kamar untuk tidur, dia benar-benar lelah sekali karena ini perjalanan cukup panjang pertamanya jadi wajar saja jika dia sampai selelah itu. Galih hanya belum terbiasa saja.
Sedangkan Abima yang memang sudah sering melakukan perjalanan ini pun tidak merasa lelah sama sekali, kedua matanya masih terbuka dengan sempurna karena tadi di kereta dia sudah sempat tidur sebentar. Walaupun sudah cukup lama tidak pulang kemari, tapi Abima masih tahan saja untuk tidak tertidur ketika sudah sampai di rumah.
Berbeda dengan Galih yang memilih untuk langsung jatuh tertidur ke alam mimpi, Abima pun lebih memilih untuk membersihkan dirinya lebih dulu karena badannya terlalu lengket sekarang. Besok siang dia harus menyambangi makam kedua orangtuanya tapi Abima belum mempersiapkan apa pun, sepertinya besok dia akan membeli bunga di sekitar pemakaman saja sehingga tidak perlu repot-repot mencarinya di sini.
Sepertinya memang akan lebih mudah seperti itu saja.
Setelah selesai mandi Abima sempat berkeliling sebentar untuk melihat-lihat karena rindu sekali dengan rumah ini. Setelah cukup puas melakukan segala kegiatannya yang tidak beralasan itu akhirnya Abima masuk ke kamarnya sendiri ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Abima tidak langsung tertidur, dia menghidupkan kembali ponselnya lebih dulu untuk memberikan kabar kepada Pak Karta dan Ibu Ana bahwa dirinya sudah sampai. Menepati janjinya untuk segera mengabari walaupun Galih tidak sempat juga untuk mengingatkannya. Tapi untung saja Abima tidak lupa, karena jika sampai lupa pasti keesokan harinya akan ada Ibu Ana yang mengomelinya lewat pesan chat yang cukup panjang.
Abima kembali membuka grup asramanya yang ternyata masih memiliki pesan yang cukup banyak setelah tadi dia sudah mendapatkan kabar bahwa ada penghuni baru di asrama putri. Sayang sekali Abima sekarang sedang pergi sehingga belum sempat berkenalan langsung dengan gadis itu, tapi nanti ketika sudah pulang Abima akan langsung mengajaknya berkenalan ketika mereka bertemu nanti.
Abima membaca pesan grup tersebut, melakukan scroll sampai bawah dan seketika dia menyadari bahwa gadis itu sudah dimasukkan ke dalam grup obrolan mereka, seluruh penghuni asrama memang ada di dalam grup itu. Abima membaca sebaris pesan yang gadis itu kirimkan di dalam grup sebelum akhirnya mendapatkan respons yang cukup heboh dari anak-anak lainnya.
Kinan : Halo, semuanya. Salam kenal, ya, gue Kinan penghuni baru di asrama putri yang bakalan tinggal di asrama sampai tiga bulan ke depan.
Tanpa pikir panjang, Abima menyimpan nomor ponsel itu di kontaknya dengan nama Kinan sebagai penghuni baru di asramanya. Dia akan berbicara dengan gadis itu setelah dirinya pulang nanti.