Jantung Larasati masih berdebar-debar, merasakan suasana baru yang meski masih agak mengganggu, dia mulai membiasakan diri dan menerima kehidupan barunya yang bisa mendengar banyak suara. Dia bisa mendengar tawa Liam yang ceria, atau mendengar suara Mahesa yang ternyata cukup menggetarkan hati. Bahkan di sepanjang perjalanan kembali ke rumah, wanita itu menutup mata, membiasakan telinganya dengan suara deru mobil, klakson yang bersahutan dari berbagai arah, juga suara-suara asing yang tidak diketahui asal sumbernya. Liam juga diam dan memberi kesempatan pada sang ibu agar wanita itu dapat mendengar apa pun yang ada dan niatnya, dia akan memberitahu ibunya banyak suara lagi saat di rumah nanti. “Li … am!” Satu hal paling pertama yang ingin Liam tunjukkan pada Larasati adalah pengucapan