Briana berdiri di depan apotek, tubuhnya terasa kaku. Pikirannya berputar-putar, menimbang apakah dia harus melangkah masuk atau kembali pulang seolah tidak ada yang terjadi. Tangannya terkepal kuat, telapak tangannya berkeringat. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Kalau aku nggak tahu hasilnya, aku bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja,” bisiknya pelan. Tapi, suara kecil di dalam hatinya membantah. Bagaimana kalau kamu benar-benar hamil? Apa kamu akan membiarkan semuanya semakin berantakan? Briana menggigit bibir bawahnya. Kalau dia hamil, ini bukan hanya masalah dirinya saja. Ini akan menghancurkan ibunya, Arum. Hubungannya yang terlarang dengan Jeremy sudah menjadi beban yang ia tanggung setiap hari. Tetapi, membawa bukti dari dosa mereka dalam bentuk