Briana turun dari tangga dengan langkah perlahan, tangan kanannya memegang erat pegangan tangga seolah membutuhkan dukungan untuk tetap berdiri tegak. Tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya sedikit berdenyut. Setiap langkah yang diambil terasa berat, tetapi dia berusaha menutupi kelemahannya dengan wajah yang tetap tenang. Di ruang makan, Arum sudah duduk di kursinya, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel. Rambutnya yang disanggul rapi menambah kesan anggun, seperti biasanya. Di meja, sarapan sudah tertata rapi—roti panggang, selai, mentega, jus jeruk, dan kopi hangat. Jeremy duduk di sebelah Arum, mengenakan kemeja biru muda yang baru disetrika, terlihat begitu santai seperti tidak ada beban. Briana berhenti sejenak di anak tangga terakhir, menatap mereka berdua. Pandangannya tert