Briana duduk di bangku kayu taman yang sudah mulai lapuk, menatap datar ke arah sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di hamparan rumput hijau. Tawa dan jeritan bahagia mereka terdengar nyaring, bercampur dengan suara angin yang meniup dedaunan pohon. Namun, semua itu terasa jauh bagi Briana. Ia merasa terasing di tengah keramaian, seperti seseorang yang melihat dunia melalui kaca buram. Matanya menatap kosong, pikirannya terus berputar pada hal yang sama—kehamilan yang ia bawa di dalam tubuhnya dan rahasia besar yang kini menjadi beban terbesarnya. Jam di tangannya menunjukkan pukul lima sore, tetapi Briana tidak berniat pulang ke rumah. Dia tidak ingin menghadapi ibunya, tidak ingin duduk di meja makan bersama Jeremy, pria yang kini menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penderitaanny